Rabu, 27 Mei 2009

IMUNISASI

IMUNISASI

A. Pengertian
Imunisasi berasal dari kata imun, berarti kebal atau resisten. Anak diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu (Notoatmodjo, 2003 : 37).
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif ( IDAI, 2005 : 7 ).
Imunisasi adalah pemberian vaksin atau serum ke dalam tubuh menusia melalui suntikan atau oral, untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.

B. Peranan Imunisasi Dalam Upaya Menurunkan Angka Kematian Bayi dan Balita
Salah satu indikator yang penting untuk mengetahui derajat kesehatan disuatu negara adalah banyaknya bayi (usia 0 – 12 bulan) yang meninggal per 1000 kelahiran hidup, yang disebut dengan Angka Kematian Bayi (AKB). Walaupun AKB ini telah menurundari 103% pada akhir Pelita II (dua) menjadi 90,3% pada akhir Pelita III (tiga), dan menjadi 76% pada akhir Pelita IV (empat). AKB di Indonesia ini adalah yang tertinggi di negara-negara ASEAN.
AKB yang tinggi ini perlu dilakukan upaya-upaya kesehatan yang lebih terarah supaya AKB di Indonesia ini dapat lebih turun lagi. Pada penelitian penyebab kematian pada balita di Indonesia, ternyata 70% kematian balita disebabkan karena diare, radang akut pada saluran pernapasan dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Jika imunisasi dilaksanakan dengan baik dan menyeluruh, (paling sedikit 80% balita di Indonesia) dengan keefektifan imunisasi mencapai 85 – 90% lebih kurang 115.000 kematian pada balita dapat dicegah. Hal ini tentu juga berpengaruh pada AKB.
Selain bahaya kematian seperti yang telah disebutkan diatas, perlu pula diingat biaya pengobatan dan perawatan terhadap penyakit-penyakit tersebut juga malah.
Oleh karena itu untuk kepentingan anak, upaya yang terbaik adalah dengan imunisasi, sehingga anak akan terhindar dari penyakit dan kematian atau cacat akibat penyakit tersebut.

C. Tujuan
Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar.

D. Manfaat Imunisasi
1. Untuk anak
Mencegah cacat yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian
2. Untuk keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit
3. Untuk negara
a. Perbaikan tingkat kesehatan
b. Menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara

E. Jenis Imunisasi
Pada dasarnya ada 2 jenis imunisasi, yaitu :
1. Imunisasi pasif (passive immunization)
Adalah pemberian imunisasi yang berasal dari hewan atau manusia kepada manusia lain dengan tujuan memberi perlindungan terhadap penyakit infeksi yang bersifat sementara karena kadar antibodi akan berkurang setelah beberapa minggu atau bulan.
Imunisasi ini dibagi menjadi dua (2), yaitu :
a. Imunisasi pasif alami
Kekebalan ini terdapat pada neonatus sampai dengan usia 6 bulan yang didapat dan ibu berarti antibodi melalui vaskularisasi pada plasenta.
b. Imunisasi pasif buatan
Yaitu kekebalan yang didapat dari luar setelah mendapatkan suntikan zat penolak misalnya pemberian vaksin ATS (Anti Tetanus Serum).
2. Imunisasi aktif (active immunization)
Adalah kekebalan yang dibuat sendiri oleh tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama. Imunisasi aktif yang diberikan pada anak seperti imunisasi : BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis B. Imunisasi TT pada ibu hamil dan calon pengantin.
Imunisasi aktif dibagi menjadi dua (2), yaitu :
a. Imunisasi aktif alami
Kekebalan yang didapat secara alami (naturally acquired), misalnya anak yang terkena difteri atau poliomyelithis setelah sembuh akan kebal terhadap penyakit tersebut.
b. Imunisasi aktif buatan
Kekebalan yang sengaja dibuat tubuh setelah mendapat imunisasi berupa pemberian vaksin, misalnya anak diberi vaksin BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B.

F. Macam-macam Imunisasi
1. Imunisasi Polio
a. Pengertian
Yaitu imunisasi yang memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit radang yang menyerang saraf (poliomeilitis). Terdapat dua (2) macam vaksin polio, yaitu :
1) IPV (Inactivated Polio Vaccine, vaksin salk)
Mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
2) OPV (Oral Polio Vaccine, vaksin sabin)
Mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan
b. Waktu pemberian
Imunisasi dasar polio diberikan pada anak usia 0 – 4 bulan sebanyak 4 kali (polio I, II, III, dan IV) dengan tingkat interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulang diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada masuk SD (usia 4 – 6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (usia 12 tahun)
c. Dosis
Di Indonesia umumnya diberikan vaksin sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 ml) langsung ke mulut anak
d. Manfaat imunisasi polio
Beberapa manfaat dari vaksin sabin :
1) Lebih efektif dari vaksin salk
2) Memberikan imunitas lokal dan humoral pada dinding usus
3) Pemberiannya mudah dengan harga yang relatif murah
4) Imunitas bertahan cukup lama (8 tahun)
5) Timbul zat anti sangat cepat
6) Dapat dipakai di lapangan dan tidak memerlukan suhu beku
7) Waktu epidemi pembentukan zat anti tidak saja cepat tetapi juga merangsang usus dan mencegah penyebaran virus
8) Dapat dibuat dalam sel manusia dan tidak bergantung dengan binatang
e. Efek samping
Secara esensial, tidak ada efek samping yang segera dari pemberian imunisasi polio hampir tidak ada, hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan dan sakit otot, kasusnya pun sangat jarang
f. Kontra indikasi
1) Diare berat
2) Gangguan kekebalan (karena obat imunosopresan, kemoterapi, kartikosteroid)
2. Imunisasi campak
a. Pengertian
Imunisasi campak adalah pemberian vaksin untuk mencegah penyakit campak
b. Waktu pemberian
Pada bayi umur 9 – 12 bulan
c. Dosis
Diberikan dengan dosis 0,5 cc
d. Tempat dan cara penyuntikan
Tempat penyuntikan di 1/3 lengan bagian atas sebelah kiri disuntikkan secara subkutan
e. Kontra indikasi
1) Riwayat kejang demam, gangguan sistem kekebalan, wanita hamil
2) Panas lebih dari 38ºC, pemakaian obat imunosupresan, alergi terhadap protein telur, hipersensitivitas terhadap kanomisin dan eritromisin
f. Efek samping
Panas dan kemerahan, ruam kulit, diare, konjungtivitis, gangguan kekebalan
3. Imunisasi hepatitis B
a. Pengertian
Imunisasi hepatitis B adalah stimulasi sistem imun dengan pemberian vaksin atau toksoid untuk membentuk pertahanan terhadap penyakit hepatitis B

b. Waktu pemberian
1) Mulai 0 bulan untuk bayi yang dilahirkan di rumah sakit
2) Mulai 2 bulan untuk bayi yang datang ke posyandu atau puskesmas
c. Dosis pemberian
1) Dosis dianjurkan berbeda antara anak dan dewasa, pada anak dosis yang dianjurkan adalah 10 ug/dosis sedangkan pada dewasa 20 ug/dosis
2) Pada bayi berusia 6 bulan dosisnya adalah 0,2 ml / U/ml dan pemberian ulangan tergantung dari hasil pembentukan anti HBS dan titer dianggap profektif adalah 10 ml / U/ml
3) Pemberian pada bayi yang berasal dari ibu penderita hepatitis B
4) Pada keadaan ini pembesaran pemberian imunisasi tergantung pada hasil pemeriksaan darah ibu. Bila hanya di jumpai Hb S Ag tanpa adanya Hb o Ag pemberian imunisasi pada bayinya cukup dengan pemberian vaksin hepatitis B 0,5 ml. Bila dijumpai keduanya, maka pemberian vaksin hepatitis B 0,5 ml diikuti dengan hepatitis B immunoglobulin (HB IG) sebanyak 0,5 ml pada saat yang bersamaan tapi pada tempat yang berbeda
5) Lain halnya dengan imunisasi, imunisasi hepatitis B harus dilakuakn berdasarkan usia kelahiran bukan usia koreksi. Dosisnya pun sama seperti pada bayi yang cukup bulan. Tetapi pemberian vaksin hepatitis B sebaiknya ditunda sampai berat badan bayi mencapai 2000 gr. Dianjurkan bayi prematur menggunakan vaksin difteri, aselular yang lebih kecil kemungkinan menimbulkan demam, bengkak atau kulit kemerahan walau harganya relatif lebih mahal
d. Cara pemberian dan tempat penyuntikan
1) Cara pemberian
a) Vaksin hepatitis B PID
- Sebelum digunakan, vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen
- Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah Hb PID, pemberian suntikan secara IM. Sebaiknya pada antero lateral paha
- Pemberian sebanyak 3 dosis
- Dosis pertama diberikan pada usia 0 – 7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan)
b) Vaksin hepatitis B Vial
Di unin pelay statis, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu dengan ketentuan :
- Vaksin belum kadaluarsa
- Vaksin disimpan dalam suhu 20 - 80ºC
- Tidak pernah terendam air
- Sterilisasinya terjaga
- Sedang di posyandu vaksin yang sudah dibuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya
2) Tempat penyuntikan
Semua vaksin hepatitis diberikan secara IM. Ini dibuktikan sejak pemberian secara SC kurang baik pada pembentukan daya kebal. Pada dewasa ini pemberian pada daerah deltoid lebih menghasilkan hasil yang kurang baik dibandingkan bila pemberian dilakukan pada daerah gluteal
3) Tempat dan cara pemberian
Pada anterolateral pada secara IM, tidak perlu dilakukan aspirasi
e. Kontra indikasi
Kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang
f. Efek samping
1) Kemerahan
2) Bengkak dan nyeri ditempat penyuntikan
3) Panas pada badan
4) Reaksi alergi

4. Imunisasi DPT (Difteri Pertusis Tetanus)
a. Pengertian
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin three in one (3 in 1) yang melindungi terhadap difteri, pertusis, dan tetanus
b. Tempat dan cara pemberian
Vaksin DPT diberikan dengan cara disuntikkan pada otot lengan atau paha intramuskular
c. Kontra indikasi
Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi, imunisasi dapat ditunda sampai anak sehat
d. Waktu pemberian
Vaksin DPT dapat diberikan pada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Imunisasi diberikan sebanyak 3 kali yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II), dan 4 bulan (DPT III). Sedang waktu kurang dari 4 minggu imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5 – 6 tahun)
e. Dosis
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau pah sebanyak 0,5 ml
f. Manfaat
Manfaat pemberian imunisasi DPT adalah untuk menimbulkan kekebalan aktif dalam waktu yang bersamaan. Selain itu apabila terjadi penyakit tersebut (difteri, pertusis, tetanus) akan jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alami
g. Efek samping
DPT sering menyebabkan efek samping yang ringan seperti demam atau nyeri ditempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1% penyuntikan, DPT menyebabkan komplikasi sebagai berikut :
1) Demam tinggi (lebih dari 40,5ºC)
2) Kejang
3) Kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
4) Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon)
1 – 2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan ditempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Untuk mengurangi rasa nyeri ditempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.
5. Imunisasi BCG
a. Pengertian
Vaksin BCG adalah vaksin untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau lebih dikenal dengan istilah TBC
b. Waktu pemberian
Bayi usia 0 – 11 bulan. Tetapi sebaiknya pada usia 0 – 2 bulan
c. Dosis pemberian
Dosis untuk bayi kurang dari 1 tahun adalah 0,05 ml dan untuk anak adalah 0,10 ml. Secara intracutan tepatnya di insersio musculus deltoideus kanan
d. Tempat dan cara pemberian
Diberikan di insersio musculuc deltoideus kanan secara intra muskular
e. Kontra indikasi
Sakit kulit (luka) ditempat suntikan
f. Efek samping
Teknik suntikan yang salah sering menyebabkan reaksi berat yang mungkin lokal, regional atau umum
Reaksi yang mungkin terjadi :

1) Reaksi lokal
1 – 2 minggu setelah penyuntikan, pada timbul penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudianbenjolan ini berubah menjadi pustula (gelombang berisi nanh), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8 – 12 minggu dengan jaringan parut
2) Reaksi regional
Pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan hilang dalam waktu 3 – 6 bulan
g. Komplikasi
1) Pembentukan abses (penimbunan nanah) ditempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan
2) Limfadensis supirativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2 – 6 bulan

G. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Adalah 7 penyakit infeksi pada anak-anak yang dapat menyebabkan kematian atau cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Diantaranya adalah :
1. Poliomyelitis (kelumpuhan).
2. Campak
3. Difteri
4. Pertusis (batuk rejan, batuk seratus hari)
5. Tetanus
6. Tubercullosis dan TBC
7. Hepatitis B

H. Reaksi Pada Tubuh Bayi Setelah di Imunisasi
Reaksi yang mungkin terjadi sesudah imunisasi adalah :
1. Reaksi Lokal
Biasanya terlihat pada tempat penyuntikan, misalnya terjadinya pembengkakan yang kadang-kadang disertai demam, dan nyeri di tempat penyuntikan.
2. Reaksi Umum
Dapat terjadi kejang-kejang atau syok.

























DAFTAR PUSTAKA



L. Wong. Donna, 2003. Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

Rampengan. TH, 1993. Penyakit Infeksi Trofik Pada Anak. Jakarta : EGC

Suraatmadja, Sudarjat. 1995. Imunisasi. Jakarta : Arcan

Wahab, Samik, Sp.A, 2002. Sistem Imun, Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta : Widya Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar