Rabu, 27 Mei 2009

Askep Empiema

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Empiema merupakan pengumpulan cairan purulen (pus) dalam kavital pleural. Pada awalnya, cairan pleura sedikit dengan hitung leukosit rendah, tetapi seringkali cairan ini berkembang ke tahap fibropurulen dan akhirnya ke tahap dimana cairan tersebut membungkus paru dalam membran eksudatif yang tebal. Kondisi ini dapat terjadi jika abses paru meluas sampai kavitas pleural. Meskipun empiema bukan merupakan komplikasi lazim infeksi paru, empiema dapat saja terjadi jika pengobatan terlambat.

Penyebabnya diantaranya adalah pemakaian antibiotika yang kurang baik dan pengobatan empiema yang menyalahi “prinsip dasar pembedahan”. Sekarang bahkan menonjol lagi dengan adanya penurunan kekebalan tubuh.

Pengetahuan faal paru, pengetahuan patofisiologi, patogenesis empiema dan pengetahuan pemakaian antibiotika yang baik sangat menolong untuk mengatasi keadaan empiema.

B. Sistimatika Penyusunan

Pada penulisan makalah ini penulis akan membahas tentang Asuhan Keperawatan Pada klien dengan Empiema, yang meliputi :

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Sistematika Penulisan

C. Tujuan Penulisan

BAB II KONSEP DASAR

A. Pengertian

B. Etiologi

C. Gejala dan tingkatan

D. Patofisiologi

E. Pentalaksanaan

F. Prognosis

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

B. Diagnosa Keperawatan

C. Intervensi

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

C. Tujuan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui lebih dalam tentang empiema

2. Memahami konsep empiema dan penatalaksanaan medik pada klien yang mengalami empiema

3. Mengkaji data status kesehatan klien yang berhubungan dengan gangguan pernapasan

4. Mengidentifikasikan tanda dan gejala yang biasa akan di dapatkan klien

5. Menegakan diagnosa keperawatan berdasarkan data objektiv dan subjektif sesuai dengan tanda dan gejala yang di dapatkan klien

6. Membuat rancangan rencana keperawatan sesuai dengan perencanaan yang telah di buat

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian

Emfisema paru didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli.

Emfisema paru adalah kondisi paru menahun dimana kantung udara dalam paru menjadi sangat teregang, sehingga merusak elastisitas serat yang membuka dan menutup kantung udara selama bernafas.

Emfisema pulmonari adalah perubahan anatomis dari parenhim paru yang ditandai oleh pembesaran abnormal alveoli dan duktus alveolar serta kerusakan dinding alveolar.

B. Klasifikasi

1. Paniobular (panacinar)

Terjadi kerusakan bronkus pernapasan, duktus alveolar, dan alveoli. Semua ruang udara di dalam lobus sedikit banyak membesar dengan sedikit penyakit inflamasi. Pasien dengan emfisema jenis ini secara khas mempunyai dada yang hiperinflasi dan ditandai oleh dispnea saat aktivitas dan penurunan berat badan. Istilah “Pink Puffer” kadang digunakan dalam menggambarkan pasien ini, karena pasien tetap “pink” atau teroksigenasi dengan baik sampai penyakit menjadi terminal.

2. Sentrilobular (centroacinar)

Perubahan patologi terutama terjadi pada pusat lobus sekunder dan porsi perifer dari Asinus tetap baik. Sering kali terjadi kekacauan rasio perfusi ventilasi yang menimbulkan hipoksia, hiperkapnia(peningkatan CO2 dalam arteri) polisitemia, dan episode gagal jantung sebelah kanan. Kondisi mengarah pada sianosis, edema perifer, dan gagal nafas. Pasien disebut “bule bloater”

C. Etiologi

1. Bertahun-tahun merokok sigaret

2. Polusi udara

3. Peradangan kantung udara dalam paru

4. Kekurangan tripsin turunan

Resiko meningkat jika

1. Pekerjaan yang membutuhkan nafas ekstra seperti peniup hiasan kaca atau memainkan alat musik.

2. Infeksi paru berulang yang menurunkan fungsi jaringan paru.

3. Alergi atau riwayat keluarga terhadap alergi.

D. Patofisiologi

Pada emfisema, beberapa faktor penyebab obstruksi jalan napas, yaitu: inflamasi dan pembengkakan bronki; produksi lendir yang berlebihan; kehilangan rekoil elastik jalan napas; dan kolaps bronkiolus serta redistribusi udara ke alveoli yang berfungsi.

Karena dinding alveoli mengalami kerusakan (suatu proses yang dipercepat oleh infeksi kambuhan), area permukaan alveolar yang kontak langsung dengan kapiler paru secara kontinyu berkurang, menyebabkan peningkatan ruang rugi (area paru di mana tidak ada pertukaran gas yang dapat terjadi) dan mengakibatkan kerusakan difusi oksigen. Kerusakan difusi oksigen mengakibatkan hipoksemia. Pada tahap akhir penyakit, eliminasi karbon dioksida mengalami kerusakan, mengakibatkan peningkatan tekanan karbon dioksida dalam darah arteri (disebut hiperkapnia) dan menyebabkan asidosis respiratorius.

Karena dinding alveolar terus mengalami kerusakan, jaring-jaring kapiler pulmonal berkurang. Aliran darah pulmonal meningkat dan ventrikel kanan dipaksa untuk mempertahankan tekanan darah yang tinggi dalam arteri pulmonal. Dengan demikian, gagal jantung sebelah kanan (kor-pulmonal) adalah salah satu komplikasi emfisema. Terdapatnya kongesti, edema tungkai (edema dependen), distensi vena leher, atau nyeri pada region hepar menandakan terjadinya gagal jantung.

Sekresi meningkat dan tertahan menyebabkan individu tidak mampu untuk membangkitkan batuk yang kuat untuk mengeluarkan sekresi. Infeksi akut dan kronis dengan demikian menetap dalam paru-paru yang mengalami emfisema, memperberat masalah.

Individu dengan emfisema mengalami obstruksi kronik (ditandai oleh peningkatan tahanan jalan napas) ke aliran masuk dan aliran keluar udara dari paru-paru. Paru-paru dalam keadaan hiperekspansi kronik. Untuk mengalirkan udara ke dalam dan ke luar paru-paru, dibutuhkan tekanan negatif selama inspirasi dan tekanan positif dalam tingkat yang adekuat harus dicapai dan dipertahankan selama ekspirasi. Posisi selebihnya adalah salah satu inflasi. Daripada menjalani aksi pasif involunter, ekspirasi menjadi aktif dan membutuhkan upaya otot-otot sesak napas klien terus meningkat, dada menjadi kaku dan iga-iga terfiksasi pada persendiannya. Dada seperti tong (barrel chest) pada banyak pasien ini terjadi akibat kehilangan elastisitas paru karena adanya kecenderungan yang berkelanjutan pada dinding dada untuk mengembang.

Pada beberapa jenis kasus, barrel chest terjadi akibat kifosis dimana tulang belakang bagian atas secara abnormal bentuknya menjadi membulat atau cembung. Beberapa pasien membungkuk ke depan untuk dapat bernapas, menggunakan otot-otot aksesori pernapasan. Refraksi fosa supraklavikula yang terjadi pada inspirasi mengakibatkan bahu melengkung ke depan. Pada penyakit lebih lanjut, otot-otot abdomen juga berkontraksi saat inspirasi. Terjadi penurunan progresif dalam kapasitas vital. Ekshalasi normal menjadi lebih sulit dan akhirnya tidak memungkinkan. Kapasitas vital total (VC) mungkin normal, tetapi rasio dari volume ekspirasi kuat dalam 1 detik dengan kapasitas vital (FEV1:VC) rendah. Hal ini terjadi karena elastisitas alveoli yang mengalami kerusakan dan jalan napas yang menyempit meningkatkan upaya pernapasan. Kemampuan untuk mengadaptasi terhadap perubahan kebutuhan oksigenasi sangat terganggu.

E. Manifestasi Klinik

1. Tidak ada gejala pada stadium awal (seringkali)

2. Serak napas yang meningkat keparahannya selama bertahun-tahun.

Serak napas/ dispnea adalah gejala utama emfisema dan mempunyai awitan yang membahayakan. Pasien biasanya mempunyai riwayat merokok dan riwayat batuk kronis yang lama, mengi, serta peningkatan napas pendek dan cepat (takipnea). Gejala-gejala diperburuk oleh infeksi pernapasan.

a. Hasil inspeksi :

1) Pasien biasanya tempat mempunyai barrel chest akibat terperangkapnya udara.

2) Penipisan masa otot.

3) Pernapasan dengan bibir dirapatkan.

b. Hasil parpasi dan perkusi :

1) Ditemukan hipersonans

2) Penurunan fremitus ditemukan pada seluruh bidang paru.

c. Hasil Auskeltasi

Tidak terdengarnya bunyi napas dengan krekles, ronki, dan perpanjangan ekspirasi.

Kadar oksigen yang rendah (hipoksemia) dan kadar karbondioksida yang tinggi (hiperkapnia) terjadi pada tahap lanjut penyakit.

3. Mengi dan batuk yang menghasilakn riak sedikit.

4. Anoreksia, penurunan berat badan dan kelemahan umum terjadi.

5. Vena leher mungkin mengalami distensi selama ekspirasi.

6. Pemeriksaan fisik menunjukkan tidak terdengarnya bunyi napas dengan ronki dan ekspirasi memanjang, hipereronans saat perkusi dan penurunan fremitus taktil.

F. Pemeriksaan Diagnostik

1. Rontgen dada

Menunjukkan hiperinflasi paru, pendataran diagfragma, peningkatan ruang udara retrosternal, penurunan marking vaskular / bullae.

2. Uji fungsi paru

Kapasitas inspiratori menurun, dan volume residu meningkat, TLC (kapasitas paru total) menurun.

3. AGD

PaOd menurun, PaCO2 normal atau meningkat, PH normal atau asidosis, respirasi alkalosis ringan sekunder akibat hiperventilasi, untuk mengkaji fungsi ventilasi dan pertukaran gas pulmonari.

4. Hitung darah lengkap (HDL)

G. Penatalaksanaan

Tujuan utama pengobatan adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, untuk memperlambat kemajuan proses penyakit, dan untuk mengatasi obstruksi jalan napas, untuk menghilangkan hipoksia. Pendekatan terapeutik mencakup:

1. Tindakan pengobatan dimaksudkan untuk memperbaiki ventilasi dan menurunkan upaya bernapas.

2. Pencegahan dan pengobatan cepat infeksi.

3. Teknik terapi fisik unuk memelihara dan meningkatkan ventilasi pulmonari.

4. Pemeliharaan kondisi lingkungan yang sesuai untuk memudahkan pernapasan.

5. Dukungan psikologis

6. Penyuluhan pasien dan rehabilitasi yang bersinambungan.

Bronkodilator untuk mendilatasi jalan nafas karena preparat ini melawan baik edema mukosa maupun spasme muskular dan membantu baik dalam mengurangi obstruksi jalan napas maupun dalam memperbaiki pertukaran gas. Medikasi ini mencakup agonis dan adrenergik (metaproterenol, isoproterenol) dan metilxantin (teofilin, aminofilin) yang menghasilkan dilatasi bronkial melalui mekanisme yang berbeda. Bronkodilator mungkin diresepkan per oral, subkutan, intravena, per rektal, atau inhalasi. Medikasi inhalasi dapat diberikan melalui aerosol bertekanan, nebuliser balon genggam, nebuliser dorongan pompa, inhaler dosis terukur, atau IPPB.

Efek samping Bronkodilator :

1. Takikardia

2. Disritmia jantung

3. Perangsangan sistem saraf pusat

4. Mual muntah (metilxantin)

Terapi Aerosol (Aerosolisasi proses membagi partikel menjadi serbuk yang sangat halus). Ukuran partikel dalam kabut aerosol harus cukup kecil untuk memungkinkan medikasi. Aerosol yang dinebuliser menghilangkan bronkospasme, menurunkan edema mukosa dan mengencerkan sekresi bronkial. Hal ini memudahkan proses pembersihan bronkiolus, membantu mengendailkan proses inflamasi dan memperbaiki fungsi ventilasi.

Pengobatan infeksi pasien dengan emfisema rentan terhadap infeksi paru dan harus diobati pada saat awal timbulnya tanda-tanda infeksi. S. Pneumonia, H. Influenza, dan Branhomella Catarrhalis adalah organisme yang paling umum pada infeksi tersebut. Terapi antimiroba dengan tetrasiklin, ampisilin, amoksisilin.

1. Tindakan umum :

a. Jangan merokok

b. Hindari menghirup zat-zat yang mengiritasi

c. Jika Anda bekerja pada suatu daerah yang terpolusi, lakukan apa saja untuk mengurangi pemajanan, ganti pekerjaan bila perlu.

d. Pasanglah AC dengan filter dan pengendali kelembaban di rumah.

e. Rawatlah setiap alergi yang mengikuti untuk mencegah memburuknya emfisema.

f. Hindari perubahan suhu dan kelembaban yang mendadak, bicara yang keras, tertawa, menangis, atau pengeluaran tenaga, jika ini memicu serangan batuk.

g. Sikatlah gigi Anda dengan teratur untuk mengurangi kemungkinan infeksi mulut.

h. Angkatlah kaki tempat tidur dan sandarkan pada blok 4 atau 5 inchi. Ini membantu mencegah lendir berakumulasi dalam bagian daerah paru.

i. Belajarlah dan praktekkan latihan pernapasan. Tanyakan petunjuknya kepada dokter.

j. Aktifitas akan dibatasi, tetapi tetaplah aktif selama badan Anda memungkinkan.

k. Diet, kecuali Anda menderita gagal jantung kongestif, minumlah sedikitnya 8 gelas air setiap hari. Ini bisa menipiskan sekresi paru sehingga dapat dibatukkan keluar dengan lebih mudah.

2. Pencegahan :

a. Jangan merokok

b. Hindari tempat yang udaranya terpolusi

c. Olah raga ringan di udara terbuka dan segar.

d. Cegahlah flu dan influenza dengan imunisasi.

e. Hindari kontak dengan penderita infeksi pernapasan.

f. Antibiotik untuk infeksi paru.

H. Komplikasi

1. Kerentanan terhadap infeksi

2. Penyakit paru obstruktif yang menahun.

3. Kegagalan pernapasan

4. Gagal jantung kongestif

I. Prognosis

Tidak dapat disembuhkan tetapi gejalanya dapat dikendalikan untuk menahan perkembangan dan keparahan penyakit, walaupun emfisema mengurangi harapan hidup banyak penderita yang dapat hidup bertahun-tahun. Tanpa perawatan, komplikasi dapat membawa kematian.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Yang perlu dikaji pada pasien, antara lain :

1. Data Subjektif

a. Riwayat dan awitan gejala seperti dispnea, batuk, pembentukan sputum.

b. Riwayat merokok.

c. Riwayat keluarga tentang emfisema.

d. Pemajanan terhadap iritan lingkungan.

e. Modalitas perawatan diri.

f. Medikasi atau terapi yang diresepkan dan keampuhannya dalam meredakan gejala.

2. Data Objektif

a. Kaji penampilan umum: klien biasanya tampak kurus dengan dada membesar.

b. Kaji tanda-tanda vital: takikardia dan takipnea.

c. Pemeriksaan paru (inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi).

d. Kaji hasil pemeriksaan laboratorium: AGD dan fungsi pulmonari.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa dapat ditegakkan, antara lain :

1. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan hipoksia jaringan sekunder akibat gangguan pertukaran gas darah atau keletihan.

2. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan penurunan permukaan paru.

3. Resiko tinggi terhadap infeksi yang berhubungan dengan peningkatan sekresi atau penurunan mobilitas dalam paru-paru.

4. Harga diri rendah (situasional) yang berhubungan dengan perubahan dalam gaya hidup dan ketergantungan pada orang lain.

5. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang terpajan terhadap informasi.

C. Intervensi Keperawatan

1. Sering berikan waktu istirahat.

2. Ajarkan klien tentang teknik penghematan energi.

3. Dorong klien untuk melakukan pernapasan bibir.

4. Secara bertahap tingkatkan aktivitas.

→ Rasional : memperbaiki toleransi aktivitas

5. Kaji status pernapasan

→ Rasional : mendapatkan informasi dasar.

6. Berikan oksigen dengan aliran lambat sesuai instruksi

→ Rasional : banyak individu dengan PPOK bergantung kepada hipoksemia sebagai stimulus untuk bernapas.

7. Berikan latihan pernapasan

→ Rasional : menurunkan upaya pernapasan.

8. Berikan waktu istirahat

→ Rasional : meningkatkan toleransi.

9. Batasi pengunjung

10. Ajarkan klien tentang tindakan-tindakan pencegahan infeksi.

→ Rasional : mengurangi pemajanan terhadap infeksi.

11. Beri klien kesempatan untuk mengekspresikan kekhawatirannya.

→ Rasional : memungkinkan untuk komunikasi.

12. Berikan rasional setiap aktivitas yang penting.

13. Diskusikan dengan keluarga atau orang terdekat tentang pentingnya bagi klien untuk mempertahankan perannya dalam membina hubungan.

→ Rasional : mempertahankan rasa kontrol diri.

14. Bantu klien untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan pribadi yang dimiliki.

→ Rasional : meningkatkan harga diri.

15. Ajarkan klien tentang:

a. Sifat dari PPOK dan pentingnya untuk mematuhi terapi dan aktivitas yang diinstruksikan.

b. Medikasi dirumah dan rencana tindakan.

c. Rencana latihan fisik di rumah.

d. Penghindaran terhadap iritan pernapasan dan infeksi.

→ Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri dan harga diri.

D. Evaluasi

1. Klien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi.

2. Klien menunjukkan pola napas yang efektif.

3. Klien menunjukkan bersihan jalan napas yang adekuat.

4. Klien dapat menjelaskan perubahan diet yang diharuskan.

5. Klien tetap terbebas dari infeksi.

6. Klien mencapai keseimbangan cairan.

7. Klien mempertahankan dan mencapai tingkat aktivitas optimal.

8. Klien memperagakan aktivitas-aktivitas untuk mengontrol respons stress terhadap gejala.

9. Klien menerapkan tindakan yang efektif untuk meningkatkan tidur.

10. Klien menyebutkan tanda-tanda dan gejala-gejala yang harus dilaporkan pada tenaga kesehatan.

11. Klien memperagakan cara untuk melakukan program latihan spesifik yang harus dilakukan di rumah.

12. Klien menunjukkan aktivitas perawatan diri komprehensif.

13. Klien dapat menjelaskan tentang program medikasi atau pengobatan yang harus dipatuhi di rumah.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Emfisema paru didefinisikan sebagai suatu distensi abnormal ruang udara di luar bronkiolus terminal dengan kerusakan dinding alveoli. Bagian tubuh yang terkena adalah alveoli. Pasien yang mengalami emfisema akan mengalami gejala di antaranya sesak napas, mengi, dan batuk. Oleh karena itu, diharapkan pasien segera melakukan tindakan keperawatan untuk memperbaiki ventilasi.

Obat yang dapat digunakan oleh pasien emfisema adalah bronkodilator, terapi aerosol, pengobatan infeksi seperti menggunakan tetrasiklin, selain itu pasien juga diharapkan agar tidak merokok.

B. Saran

Pasien dapat mengetahui informasi tentang emfisema dan hendaklah mulai hidup sehat dengan cara tidak merokok, menghindari zat-zat yang mengiritasi, dan lain-lain. Apabila terdapat gejala-gejala emfisema seperti yang telah disebutkan diatas, maka hendaklah segera memeriksakan ke dokter guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Asih, Ni Luh Gde Yasmin. 2003. Keperawatan Medikal Bedah, Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : EGC

Smeltzer, C Suzanne. 2001. Keperawatan Medikal Bedah, Brunner & Suddart edisi 8 vol.1. Jakarta : EGC




ASKEP LEUKEMIA

A. Latar Belakang
Leukemia adalah keganasan yang berasal dari sel-sel induk system hematopoietiek yang mengakibatkan poliferasi sel-sel darah putih tidak terkontrol dan pada sel-sel darah merah namun sangat jarang
Insiden leukemia terjadi lebih sering pada orang dewasa ketimbang anak –anak. Total anak-anak yang terkena leukemia setiap tahunnya adalah 2600 kasus. Akan tetapi,hal ini merupakan malignansi terbesar yang terjadi pada anak-anak,yang menunjukan sekitar 30% dari kasus keganasan pada anak-anak.

B. Rumusan Masalah
Masalah yang dapat kami rumuskan dalam makalah ini adalah:
1. Pengertian leukemia
2. Etiologi Leukemia
3. Patofisiologi Leukemia
4. Klasifikasi Leukemia
5. Pemeriksaan Diagnostik leukemia
6. Komplikasi Leukemia

C. Tujuan
Makalah yang berjudu “Asuhan keperawatan pada klien dengan leukemia”, yang di buat dengan tujuan :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Askep kardiovaskuler.
2. Dapat mengetahui masalah –masalah pada klien dengan leukemia.
3. Dapat memberi pengetahuan dan manfaat bagi para pembacadan para perawat pada khususnya.



TINJAUAN TEORI


A. Pengertian
Leukemia adalah kanker yang melibatkan proliferasi sel-sel darah putih yang imatur
Leukemia adalah proliferasi teratur dari SDP dalam sumsum tulang yang menggantikan elemen normal.
Leukemia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering di sertai bentuk leukosit yang tidak normal, jumlahnya berlebihan, dapat menyebabkan anemia, trombositopenia, dan di akhiri dengan kamatian.

B. Etiologi
Penyebab leukemia tidak di ketahui, tetapi mungkin merupakan proses neoplastik. Beberapa teori menyatakan penyebabnya adalah virus dan yang lain menyatakan di sebabkan karena genetik ( Hal ini berdasarkan familier ). Pengaruh dari lingkungan misalnya adanya peledakan bom-bom kimia dapat meningkatkan jumlah orang dengan leukemia. Berhubungan langsung pasien dengan bahan–bahan kimia seperti bentene, choramphenicol dan beberapa agen chemoterapeutik seperti agen alkylating juga dapat menyebabkan leukemia.

C. Patofisiologi
Manifestasi klinik berhubungan dengan infasi sumsum tulang oleh sel-sel leukemik dan penekanan pada sumsum tulang. Sewaktu sel-sel proliferasi menyerbu ke sumsum tulang,maka terjadi nyeri tekan dan rasa sakit. Penambahan jumlah sel-sel juga di ikuti dengan bertambahnya makan dan kurangnya produksi eritrosit, neutrofil dan platelet. Akibat dari penekanan pada sumsum tulang dapat membahayakan hidup manusia. Penurunan produksi sel-sel darah merah menyebabkan anemia. Meskipun demikian,anemia sering munculnya terlambat karena sel-sel darah merah dapat hidup sampai 120 hari, dan beberapa kompensasi fisiologis dari kehilangan sel-sel darah merah dapat menghambat efek dari anemia. Sewaktu kadar hemoglobin menjadi sekitar 6gr. Pasien menjadi kelelahan, pucat, lemah, nafas pendek, pusing, dan denyut jantung cepat.
Neutropenia menyebabkan pasien mudah infeksi. Tumbuh-tumbuhan alami atau infasi dari kerusakan pada kulit mungkin merupakan sumber infeksi. Pseudomonas Aeruginosa, Staphylococus Aereus, E. Colli, Klepsiella dan candida adalah patogen yang menyebabkan stomatitis, Mucositis dan kurangnya pemeliharaasn pada endotelial dari pembuluh-pembuluh darah,menyebabkan perdarahan kecil dan petekie pada jaringan cutaneus. perlu perhatian serius adanya perdarahan besar pada paru-paru, saluran pencernaan dan sistim saraf sentral atau terjadinya Dissemenated Introvaskuler Doagulation(DIC ).
Selain adanya gangguan fungsi dalam sumsum tulang, sel-sel leukemik merembes ke limpa, hati dan kelenjar limfe. Sel leukemik dapat juga menyerang ke sistem saraf sentral,kemungkinan besar pada arakhnoid dan kemudian terjadi peningkatan tekanan cairan intra kranial dan tanda-tanda meningitis seperti sakit pepala, letargi, muntah, dan edema pupil.

D. Klasifikasi
Menurut perjalanan penyakitnya dapat di bagi atas leukemia akut dan kronik. Dengan kemajuan pengobatan akhir-akhir ini, pasien leukemia limfoblastik akut dapat hidup lebih lama dari pada pasien leukemia Granulositik kronik. Dengan demikian pembagian akut dan kronik tidak lagi mencerminkan lamanyan harapan hidup. Namun pembagian ini masih menggmbarkan kecepatan tinbulnya gejala dan komplikasi.
Menurut jenisnya,leukemia dapat di bagi atas leukemia Mieloid dan Limfoid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar,pembagian leukemia adalah sbb:

1. Leukemia mieloid
a. Leukemia Granulositik Kronik (Leukemia Mieloid/Mielositik/Mielogenous Kronik)
Adalah suatu penyakiyt mieloproliferatif yang ditandai dengan produksi berlebihan sel granulosit yamh relatif matang. Leukemia mielogenus kronis(CML) juga dimasukan dalam keganasan sel sistem mieloid. Namun, lebih banyak terdapat sel normal dibanding pada bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu berusia dibawah 20 tahun, namun insidennya meningkat sesuai pertambahan usia.
1) Manifestasi klinis
Manifestasi klinis tersering dijumpai adalah rasa lelah, penurunan berat badan, rasa perih di perut, kadang-kadang rasa sakit di perut dan mudah mengalami perdarahan. Pada pemeriksaan fisik hamper selalu ditemukan splenomegali,yaitu pada 90%kasus.juga sering didapatkan nyeri tekan pada tulang dada dan hepatomegali.kadang-kadang terdapat purpura, perdarahan retina panas, pembesaran kelenjar getah bening dan kadang-kadang priapismus.
2) Penatalaksanaan
Pengotan dapat dilakukan per oral dengan obat-obatan sebagai berikut:
Tablet Busulfan (2mg)
Induksi : Bila leukosit 50.000/µl – 6mg/hari sampai dengan leukosit 5000-15.000/µl kemudian istirahat 2 minggu. Selanjutnya diteruskan dengan maintenance( pemberiannya disesuaikan dengan jumlah leukosit saat itu ).
Hydropurea 500mg
Dosis 15-25 mg/kg BB dalam 2 dosis per oral
3) Prognosis
Sebagian besar pasien leukemia granulositik kronik akan meninggal setelah memasuki fase akhir yang krisis blastik. Kematian biasanyaakibat infeksi atau perdarahan.
b. Leukemia Granulositik Akut (leukemia myeloid/miolositik/mieloblastik/mielogenous akut)
Leukemia mielogenus akut (AML)mengenai sel system hematopoetik yang kelak berdiferensiasi kesemua sel myeloid, monosit, granulosit(basofil,netrofil,eosinofil), eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia, AML lebih sering ditemukan pada laki-laki dari pada wanita. AML merupakan leukemia non limfositik yang paling sering terjadi.
1) Manifestasi klinis
Kebanyakan tanda dan gejala terjadi akibat berkurangnya produksi sel darah normal. Kepekaan terhadap infeksi terjadi akibat granulositopenia kekurangan granulosit, kelelahan dan kelemahan terjadi karena anemia, jumlah trombosit, poliferasi, sel lekemi dalam organ mengakibatkan berbagai gejala tambahan, nyeri akibat pembesaran limfa atau hati, masalah kelenjar limfa, sakit kepala atau muntah akibat leukemia meningeal(sering terjadi pada leukemia limfositik), dan nyeri tulang akibat penyebaran sumsum tulang.
2) Penatalaksanaan
• Kemoterapi
• Obat yang biasa digunakan meliputi : daunorobicin, hydrochlorit (cerubidine), cytarabine (cyttosar-U), dan mercatopurine (purinethol).
• Asuhan pendukung terdiri dari pemberian produk darah dan penanganan infeksi dengan segera.
3) Prognosis
Pasien yang mendapatkan penanganan dapat bertahan hanya sampai 1 tahun, dengan kematian yang biasanya terjadi akibat infeksi/ perdarahan

2. Leukemia limfoid
a. Leukemia Limfositik Kronik
Leukemia limfositik kronik (LLK) cenderung merupakan kelainan ringan yang terutama mengenai individu antara usia 50-70 tahun, dan lebih sering ditemukan ada laki-laki dari pada wanita (2:1).
1) Manifestasi klinis
Berupa limfadenopati, hepatomegali, infiltrasi alat tubuh lain (paru, pleura, tulang, kulit)
2) Penatalaksanaan
Yang perlu diobati adalah pasien yang menunjukan progresifitas limfadenopati/splenomegali, anemia, trombositopenia atau gejala akibat tumor.
Obat-obatan yang dapat diberikan adalah:
• klorambusil : 0,1-0,3 mg/kg BB sehari per oral
• kortikosteroid : sebaiknya baru diberikan bila terdapat AIHA atau trombositopenia / demam tanpa sebab infeksi.
• Radioterapi dengan menggunakan sinar-X kadang-kadang menguntungkam apabila ada keluhan pendesakan karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat.
3) Prognosis
Ketahanan hidup rata-rata pasien dengan leukemia limfositik kronik (LLK) adalah 7 tahun.
b. Leukemia Limfositik Akut
Leukemia limfoblastik akut (LLA) dianggap sebagai suatu proliferasi ganas limfoblas. Paling sering terjadi pada anak-anak dengan laki-laki lebih banyak dibanding perempuan dengan puncak insiden pada usia 4 tahun. Setelah usia 15 tahun LLA jarang terjadi.
1) Manifestasi klinis
Gejala tersering yang dapat terjadi adalah rasa lelah, panas tanpa infeksi, purpura, nyeri tulang dan sendi, macam-macam infeksi, penurunan BB dan serimg ditemukan suatu masa abnormal. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan splenomegali(86%);hepatomegali,limfadenopati, nyeri tekan tulang dada, ekimosis dan perdarahan retina.
2) Penatalaksanaan dan prognosis
Terapi LLA telah mengalami kemajuan, sekitar 60% anak mencapai ketahanan hidup sampai 5 tahun. Bentuk terapi utama adalah kemoterapi, radiasi untuk daerah kranius spinal dan injeksi intrafekal. obat kemoterapi dapat membantu mencegah kekambuhan pada sistem saraf pusat.

E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Temuan laboratorium berupa perubahan hitung sel darah spesifik
2. Pemeriksaan sumsum tulang memperlihatkan proliferasi klonal dan penimbunan sel darah.

F. Komplikasi
Komplikasi yang berhubungan dengan leukemia dan pengobatannya,meliputi infeksi yang berhubungan dengan supresi sumsum tulang, perdararahan sehubungan dengan trombositopeni dan masalah-masalah neurologis yang berhubungan dengan hemoragis / infiltrasi leukemik dalam susunan saraf pusat (SSP) / leukostatis.




ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN LEUKEMIA

A. Pengkajian
1. Riwayat
a. Faktor resiko penyakit leukemia
b. Pekerjaan dan hobby
c. Riwayat penyakit yang lalu dan medis (adanya terpapar oleh radiasi ionisasi, atau obat-obat yang meningkatkan resiko anemia).
d. Infeksi (influensa, pneumonia, bronchitis).
e. Perdarahan (melalui gusi, hidung, meningkat saat menstruasi, rektum, hematuri).
f. Ketidakemampuan dalam aktifitas.
2. Pemeriksaan fisik
a. Kulit anemis dan dingin
b. Pucat pada sekitar wajah, sekitar mulut dan kuku
c. Peteki pada seluruh permukaan kulit
d. Tanda-tanda infeksi/trauma pada kulit
e. HR meningkat, murmur (+)
f. RR meningkat
g. Hilang BB, nausea, anoreksia
h. Suara usus dan konstipasi
i. Ganggun saraf kranial,sakit kepala dan papiledema
3. Pengkajian Psikososial
a. Koping individu dan keluarga
b. Support sistem
c. Peran dalam keluarga dan masyarakat
d. Cemas, takut, dan perubahan konsep diri


B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuat pertahana sekunder: penekanan jumlah limfosit imatur,imunosipresi,penekanan sumsum tulang( efek terapi / transplantasi )
2. Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, dan diare karena kemoterapi.
3. Nyeri berhubungan dengan agen fisik, misal: pembesaran organ/ nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemik.
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelelahan sekunder terhadap anemia
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai penyakit leukemia dan pengobatannya.

C. Perencanaan Dan Implementasi
1. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuat pertahanan sekunder:penekanan jumlah limfosit imatur, immunosupresi, pemekanan sumsum tulang ( terapi/transplantasi ).
Tujuan : potensial infeksi menurun dan tidak adanya tanda-tanda infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan.

INTERVENSI RASIONAL
 Tempatkan pada ruangan khusus. Batasi pengunjung sesuai indikasi, hindarkan penggunaan tanaman hidup/bunga potong.
 Berikan protokol untuk mencuci tangan yang baik bagi petugas dan pengunjung.
 Pantau TTV setiap 4 jam/lebih sering jika diperlukan.



 Berikan obat anti biotik, antijamur, dan obat-obat antimikrobial lainnya sesuai kebutuhan.
 Melindungi dari sumber potensial patogen/infeksi.



 Mencegah kontaminasi silang / menurunkan resiko infeksi.

 Demam/ hipotermia dapat mengindikasikan timbulnya infeksi pada pasien yang mengalami granulositopenia.

 Mencegah dan atau mengatasi agen-agen infeksi dalam pasien yang mengalami gangguan sistem imun.

2. Resiko terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, anorexia, dan diare karena kemoterapi.
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi estela dilakukan tindakan keperawatan

INTERVENSI RASIONAL
 Timbang BB tiap hari


 Awasi TD dan frekuensi jantung


 Perhatikan adanya mual, demam


 Dorong cairan sampai 3-4 lt/hari bila masukan oral dimulai


 Kolaborasi :

- berikan cairan IV sesuai indikasi



- berikan obat sesuai indikasi : contoh ondansetron (zofran)  mengukur keadekuatan penggantian cairan sesuai kebutuhan
 perubahan dapat menunjukan efek hypovolemia (perdarahan/dehidrasi)
 mempengaruhi pemasukan, kebutuhan cairan dan rute penggantian
 meningkatkan aliran urine, mencegah pencetus asam urat dan meningkatkan pembersihan obat antineoplastik


 mempertahankan keseimbangan cairan/elektrolit pada tak adanya pemasukan melalui oral;menurunkan resiko komplikasi ginjal
 menghilangkan mual/muntah sehubungan dengan pemberian agen kemoterapi


3. Nyeri berhubungan dengan agen fisik,misal:pembesaran organ/nodus limfe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemik.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri berkurang.

INTERVENSI RASIONAL
 Selidiki keluhan nyeri. Perhatikan perubahan pada derajat dan sisi (gunakan skala 0-10)

 Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non verbal, misal: tegangan otot, gelisah
 Berikan lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stress




 Bantu/berikan aktivitas terapeutik, tekhnik relaksasi
 Kolaborasi:
- Berikan obat sesuai indikasi: analgesic, contoh asetaminofen (tylenol)  Membantu mengkaji kebutuhan untuk intervensi; dapat diindikasikan terjadinya komplikasi
 Dapat membantu mengevaluasi pernyataan verbal dan keefektifan intervensi
 Meningkatkan istirahat dan meningkatkan kemampuan koping



 Membantu manajemen nyeri dengan perhatian langsung

 Diberikan untuk nyeri ringan yang tidak hilang dengan tindakan kenyamanan. Catatan: hindari produk mengandung aspirin karena mempunyai potensi perdarahan.

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan sekunder terhadap anemia.
Tujuan : peningkatan toleransi aktivitas setelah dilakukan tindakan keperawatan.

INTERVENSI RASIONAL
 Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas atau aktivitas sehari-hari
 Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan. Dorong istirahat sebelum makan
 Implementasikan tehnik penghematan energi, contoh: lebih baik duduk dari pada berdiri. Bantu ambulasi/ aktivitas lain sesuai indikasi
 Kolaborasi:
- berikan oksigen tambahan  Efek leukemia., anemia, dan kemoterapi mungkin kumulatif( khususnya selama fase pengobatan akut dan aktif)
 Menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler/ penyembuhan jaringan
 Memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri




 Memaksimalkan sediaan oksigen untuk kebutuhan seluler


5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai penyakit leukemia dan pengobatannya.
Tujuan : menyatakan kondisi atau proses penyakit dan pengobatan setelah dilakukan tindakan keperawatan.

INTERVENSI RASIONAL
 Kaji ulang pathologi bentuk khusus leukemia dan berbagai bentuk pengobatan
 Berikan informasi yang jelas dan akurat dalam cara yang nyata tetapi sensitif. Jawab pertanyaan secara khusus, tetapi tidak memaksakan dengan detil yang tidak penting.
 Minta pasien untuk umpan balik verbal, dan perbaiki kesalahan konsep tentang tipe kanker individu dan pengobatannya  pengobatan dapat termasuk berbagai obat anti neoplastik, radiasi seluruh tubuh atau uluhati/limpa, tranfusi, dan/atau transplantasi sumsum tulang
 membantu penilaian diagnosa kanker, memberikan informasi yang diperlukan selama waktu menyerapnya
 kesalahan konsep tentang kanker lebih mengganggu dari pada kenyataan dan mempengaruhi pengobatan atau penurunan penyembuhan

D. Evaluasi
Hasil yang diharapkan:
1. Pasien mengidentifikan tindakan untuk mencegah atau menurunkan risiko infeksi
2. Pasien menunjukan volume cairan adekuat di buktikan oleh TTV stabil, nadi teraba, haluaran urine,berat jenis dan PH dalam batas normal.
3. Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol.
4. Laporan peningkatan toleransi aktifitas yang dapat diukur.
5. Menyatakan pemahaman kondisi atau proses penyakit dan pengobatan.


PENUIUP

A. Kesimpulan
1. Leukemia adalah suatu penyakit kanker yang melibatkan proliferasi sel darah putih/ leukosit yang tidak normal, jumlahnya berlebihan, dapat menyebabkan anemia, trombositopenia, dan diakhiri dengan kematian.
2. Walaupun pada sebagian besar pasien leukemia faktor-faktor penyebanya tidak dapat di identifikasi, namun terdapat beberapa faktor yang terbukti dapat menyebaakan penyakit ini. Faktor-faktor tersebut adalah faktor genetik, sinar radioaktif dan virus.
3. Menurut jenisnya leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan limfoid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar, pembagiannya adalah sebagai berikut:
a. Leukemia mieloid
1) Leukemia granulositik kronik ( leukemia mieloid/mielositik/mielogenous kronik )
2) Leukemia mieloblastik akut ( leukemia mieloid/mielositik/granulositik/mielogenous akut )
b. Leukemia limfoid
1) Leukemia limfositik kronik
2) Leukemia limfositik akut

B. Saran
Setelah mengetahui dan memahami tentang penyakit leukemia dari sumber-sumber yang ada sebaiknya kita menghindari atau tidak berhubungan langsung dari radiasi dan bahan-bahan kimia onchogenic karena berisiko tinggi terhadap beberapa macam tipe leukemia.


DAFTAR PUSTAKA


Ni Luh Gede, Yasmin A. 1993. Proses Keperawatan pada pasien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. EGC: Jakarta.
Smeltzer, Suzzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart. EGC: Jakarta.
Doengoes, Merilyen E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta. Media Aesculapius: Jakarta.
Corwin. J, Elisabeth. 2000. Buku Saku Pathofisiologi. EGC: Jakarta.
Gale, Daniele. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC: Jakarta.